Recent comments

  • Breaking News

    Peran PPL Dalam Menumbuhkan Kembali Budaya Gotong Royong

    Beberapa kelompok tanai melakukan gotong royong.
    PUTUSSIBAU, Uncak.com - Seiring pesatnya perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi yang begitu canggih  saat ini, semakin kendor pula nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu, yakni budaya gotong royong.

    Sudah saatnya kita berbenah dan ikut melestarikan budaya gotong royong, meski  dalam ruang lingkup yang kecil seperti keluarga atau kelompok dan lain-lain, agar timbul kesadaran dari anak dan cucu kita akan pentingnya menghargai serta melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa kita tercinta ini.

    Seperti halnya yang dilakukan oleh Nur Abidah, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di Desa Semangut Utara dan Nanga Semangut Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat,  beliau dengan gigih  berusaha mengajak para petani atau kelompok tani untuk melestarikan budaya gotong royong yang kini nyaris lenyap ditelan zaman.

    Terbukti, niat ikhlas dan tulusnya mengajak para petani untuk membudayakan gotong royong membuahkan hasil, kini gotong royong telah menjadi budaya bagi para petani ditempat tugasnya tersebut.

    "Dulu, sekitar tahun 1970-an, pada masa itu kami masih kecil-kecil, kami pernah ikut dengan orang tua kami, saat itu banyak warga bersama-sama ikut bergotong-royong dalam mengerjakan pekerjaan diladang, kami pun makan bersama ramai-ramai pada waktu itu," ujar Ngah Redi, salah satu anggota Kelompok Tani Sungai Urui Bersatu yang ikut bergotong-royong, Sabtu (20/5/17).

    Kami rindu sekali kebersamaan seperti dulu, namun sekarang kami telah merasakannya kembali, ini semua berkat ibu Nur Abidah yang mempersatukan kami para petani, sehingga kami dengan mudah mengerjakan suatu pekerjaan berat, yang sebenarnya mustahil kami mampu mengerjakannya sendiri tanpa bergotong-royong.

    "Contohnya dengan membuat parit atau drainase ini, selama tiga pekan berturut-turut setiap hari Sabtu kami mengadakan gotong-royong mengerjakannya, didampingi pula oleh Ibu Nur Abidah, dan akhirnya selesai dengan mudah, sebelumnya tidak terpikir oleh kami untuk bergotong royong seperti sekarang ini," terangnya.

    Sebelum dibuatkan parit, sawah milik kelompok tani Sungai Urui Bersatu Desa Nanga Semangut yang diketuai oleh Jamdi, dan Mahidin sebagai Sekretaris ini, sawah tersebut terendam dalam waktu yang cukup lama apabila turun hujan deras, sehingga tidak bisa ditanami, oleh sebab itu, sebagai PPL yang peduli dengan nasib para petani binaannya, Nur Abidah berinisiatif mengajak para petani untuk bergotong royong membuat parit.

    "Dengan dibuatnya parit ini secara bergotong royong, akhirnya sekarang sawah kami tidak terendam lagi, meskipun diguyur hujan deras," pungkas Ngah Redi.

    Ditemui terpisah, Nur Abidah mengatakan, budaya gotong royong ini, sengaja ia tanamkan terhadap petani, dengan tujuan untuk menguatkan persatuan dan kekompakan kelompok, agar dikemudian hari petani bisa swadaya dan mandiri tanpa ketergantungan dengan pemerintah.

    "Yang tidak bisa dilakukan petani secara swadaya, barulah kita minta bantuan ke pemerintah melalui Dinas terkait dengan cara membuat proposal, tetapi jangan terlalu berharap harus dapat bantuan, sebab jika terlalu berharap, maka petani akan menjadi malas bersawah," ungkap Nur.  [Noto]

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Uncak

    Post Bottom Ad